Rabu, 24 Februari 2016

IRI?

   suatu waktu aku pernah mendengarkan cerita dari seorang wanita. dulu hidupnya sangatlah bahagia, karena dulu hari harinya penuh dengan canda tawa bersama sahabat-sahabatnya, kasih sayang dari kedua orang tunya, dan apapun yang dia butuhkan entah apalah itu akan selalu ada disisinya.
   suatu hari ia pergi merantau di kota yang jauh dari tempat dia tinggal, untuk waktu yang cukup lama. pada awalnya dia merasa semuanya akan baik-baik saja, berjalan normal sesuai dengan harapannya. memang benar pada awalnya semuanya baik-baik saja. para sahabatnya tidak pernah lupa akan dirinya, mereka selalu bercerita apa yang mereka alami di keseharian mereka padanya. keluarganya pun sama, selalu menjalin komunikasi baik dengannya, dan juga selalu bercerita tentang apa yang dialami keluarganya di tempat kelahirannya.
   dia tidak pernah memungkiri bahwa dia selalu rindu akan sosok orang-orang yang ia sayangi. dia tak pernah absen untuk sekedar mencari informasi berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang terkasihnya. entah itu dari sosial media, ataupun dari cerita mereka secara langsung. ini membuatnya sedikit lebih tenang akan ketakutannya, dulu ia pernah takut jika ia tidak bisa ikhlas untuk pergi meninggalkan semua hal indah yang ada dikota kelahirannya.
   akan tetapi suatu saat kesabarannya pun mulai runtuh oleh rasa iri yang tiba-tiba muncul entah darimana. dia iri pada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan semua orang yang ia kasihi. tapi bukan iri dalam artian "dengki" yang ia rasakan. ia iri pada keluarga dan sahabat-sahabatnya karena ada beberapa moment yang menurut dia seharusnya dia juga ikut serta didalam moment itu, tapi perantauan itu mengahalangi keinginannya. dan rasa iri itu semakin menjadi ketika ia melihat satu orang yang sangat ia cintai, mengabadikan suatu moment dan membagikannya kepada publik. hal ini membuatnya gila, kebingungan, dan apa yang ia lakukan tidak berjalan sesuai harapannya.
   pernah terbesit bahwa ia ingin kembali ke kampung halamannya, meninggalkan sepertiga proses yang sudah ia tempuh dalam perantauannya. lalu ia berfikir kembali, bahwa itu hanyalah fikiran bodoh yang pasti jika ia lakukan akan dia sesali akhirnya. hingga ia selalu berdoa agar orang-orang yang ia kasihi akan tetap rindu dan ingat padanya seperti halnya rasa rindu dan sayangnya pada mereka.
   mungkin untuk sebagian orang ini bukanlah hal rumit, tapi untuknya ini adalah beban yang sangat berat yang harus dipikulnya "sendirian". karena dia merasa tidak ada orang yang bisa mengerti dirinya seperti halnya keluarga dan para sahabatnya. dan selama itu pula ia tidak pernah ingin bercerita pada orang-orang terkasihnya tentang apa yang dia alami saat itu.
   hmm, memang wanita ini adalah sosok yang paling tegar, sabar, dan ikhlas yang aku kenal. ia rela tersakiti untuk melihat orang-orang yang ia kasihi bahagia, tanpa memikirkan kebahagiannya sendiri, sungguh tulus kasih sayangnya. ini hanya sepertiga dari kisah hidupnya, lain waktu akan aku ceritakan lagi pada kalian cerita-cerita indah tentangnya.